Perjalanan agak cukup lumayan jauh coz ini di daerah Pajang, agak2 Laweyan ke sana dikit lah...panas terik matahari, debu yang beterbangan tidak menghalangi langkah kami untuk mengunjungi keraton Pajang..
Udah sampe kira2 di daerah Pajang, kami berbelok ke sebuah jalan karna menemukan palang seperti ini :

Nah, berbeloklah kami dan mencari2 di mana tepatnya letak keraton Pajang itu...eh di perempatan menemukan tugu kecil seperti ini :

Nah, ngga lama kemudian kami nyampe di Petilasan Keraton Pajang..Di situ kami bertemu dengan juru kunci yaitu Bpk Jasmine, beliau adalah keturunan ke 17 (kalo ngga salah) dari semua juru kunci yang ada. Di keraton pajang kami melihat tempat atau jejak sejarah dari Sultan Hadiwijaya atau biasa disebut Joko Tingkir. Keraton Pajang ini menduduki posisi yang amat penting dalam pentas sejarah nasional. Dinasti besar Kerajaan Jawa yaitu Majapahit, Demak dan Mataram, ketiganya bertemu di antara silsilah keraton Pajang. Pada diri Sultan Hadiwijaya yang menjadi raja Pajang mengalir darah Majapahit dan Demak. Sebelum menjadi raja, dia bernama Joko Tingkir atau Mas Karebet yang suka melakukan lara lapa tapa brata, meditasi dan refleksi untuk mempertajam kualitas diri. Dari segi spiritual Joko Tingkir telah memperoleh kepribadian yang unggul. Semasa mudanya Joko Tingkir berguru kepada tokoh-tokoh ternama, misalnya Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Sela. Mereka adalah ahli ilmu pengetahuan yang putus ing reh saniskara. Gemblengan para guru agung ini menghantarkan Joko Tingkir menjadi jalma limpat seprapat tamat. Secara intelektual mumpuni, secara sosial sangat populer. Para kawula baik di perkotaan, pedesaan maupun pegunungan mengenal Joko Tingkir sebagai keturunan bangsawan, trahing kusuma rembesing madu, yang dipercaya mampu menjadi pewaris tahta. Sesungguhnya pada dewasa ini banyak keturunan Joko Tingkir yang bertebaran di negeri ini sebagai pemimpin. Mereka tampil dalam berbagai bidang, baik legislatif, yudikatif maupun eksekutif. Sebagian menekuni dunia pendidikan dan keagamaan. Pesantren di tanah Jawa, bila dirunut genealoginya, ternyata masih ada hubungan keluarga dengan trah Pajang. Dengan demikian Keraton Pajang memang mewariskan bakat ulama dan umara, yang menebarkan pesona ketentraman (http://budayajawa.com/index.php?productID=227)
Nah, yang masih tersisa di keraton ini adalah batu yang merupakan tempat duduk saat Joko Tingkir bersemedi. Selain itu ada sendang, seperti sumur yang bisa bersih walaupun berasal dari sungai yang kotor. Ada juga rakit yang merupakan tempat Sultan Hadiwijaya jika melalui sungai. Dan ada juga seperti kayu yang berguna untuk tempat duduk Sultan Hadiwijaya jika menaiki kendaraannya yaitu gajah. Menarik bisa belajar banyak di tempat ini. Sehabis dari Keraton pajang, kami penasaran dengan Gapura Barat, sehingga kami melaju ke daerah makam haji, dan menemukan gapura barat yang lebih menyerupai candi.
After a long trip..akhirnya misi kami selesai. Diakhiri dengan mie ayam dan jeruk hangat kami melepas lelah sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Such a wonderful day..^^
0 komentar:
Poskan Komentar